Tampilkan postingan dengan label Ahlulbait. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlulbait. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2013

Doa Harian Khusus Bulan Ramadhan

doa

Doa Hari Pertama
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ وَ قِيَامِيْ فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ وَ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ وَ هَبْ لِيْ جُرْمِيْ فِيْهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَ اعْفُ عَنِّيْ يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ
Ya Allah, jadikanlah puasa dan ibadahku di bulan ini seperti puasa orang-orang sejati, bangunkanlah aku di bulan ini dari kelelapan tidur orang-orang yang lupa ampunilah segala kesalahanku, wahai Tuhan semesta alam, dan ampunilah aku, wahai pengampun orang-orang yang bersalah.
Doa Hari Kedua
اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah, dekatkanlah aku di bulan ini dari ridha-Mu, hindarkanlah aku di bulan ini dari kemurkaan-Mu, dan anugerahkanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk membaca ayat-ayat (kitab)-Mu. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Lebih Pengasih dari para pengasih.

Rabu, 20 Februari 2013

Beginilah Akhlak Pecinta Ahlulbait

1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan,:“Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. Syeikh Shâduq (305-381) Beliau mengatakan,” Wahai Jabir janganlah engkau bermazhab kepada orang-orang yang hanya mengatakan aku cinta Ali as dan berwali kepadanya, dan jika ada yang mengatakan aku cinta kepada rasul dan dan Rasulullah lebih baik dari Ali as, tapi kemudian tidak mengikuti jalannya tidak mengamalkan sunnahnya maka kecintaannya itu tidak bermanfaat sedikitpun. Maka bertakwalah kepada Allah dan beramalah karena Allah, karena tidak ada kekerabatan antara Allah dan siapapun. Hamba yang paling dicintai dan dihormati di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan yang paling mentaati-Nya.Wahai Jabir seseorang hamba tidak bisa mendekati Tuhannya kecuali dengan mentaati-Nya. Arti dibebaskan dari Neraka tidak ada artinya dan tidak ada satupun diantara kalian yang menjadi hujjah bagi Allah. Siapa yang ta’at itulah bagian dari kami dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah maka itu musuh kami, wilayah (kesetian) kepada kami tidak bisa dicapai kecuali dengan ketakwaan dan kewara’an.

Rahbar Melarang Menistakan Sahabat Nabi

            Kepala bagian kepentingan Iran di Kairo Mojtaba Amani menekankan pentingnya persatuan antara Muslim Syiah dan Sunni.

Dalam pertemuan dengan Sheik Besar Al-Azhar saat ini Ahmed Mohamed el-Tayeb, Selasa (22/5/12), dia mengatakan tangan-tangan kotor tengah menyebarkan pemikiran yang salah dan memutuskan soal keagamaan secara tidak benar untuk menabur perselisihan antara umat Muslim Syiah dan Sunni.
Ia merujuk pada keputusan agama (fatwa) yang dikeluarkan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei yang melarang penistaan terhadap para sahabat dekat Nabi Suci Islam serta tanda-tanda keagamaan milik umat Islam Sunni.

Selasa, 12 Juni 2012

Apakah Orang yang Mendzalimi Ahlul Bait Nabi dijamin Masuk Surga?

Manipulasi Sejarah !!!
Dongeng berlabel hadis bahwa si A si B dijamin surga menghiasi alam pikiran nenek moyang
kita tempo dulu !!
Mereka kena tipu.

Kita sering mendengar dari orang-orang syiah atau dari buku-buku syiah bahwa Abu Bakar
menzalimi Fatimah karena menghalanginya dari warisan tanah Fadak (yang skarang disebut al-Haith).

Kenabian Nabi Muhammad sama dengan kenabian Nabi Musa. Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau
sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut
terjadi perpecahan. Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS. Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

Rabu, 06 Juni 2012

Sayidah Zainab as, Perempuan Paling Sabar dari Nabi Ayyub

    Kendati Nabi Ayyub as terkenal sebagai orang yang sabar dan beragam musibah berat telah menimpanya, namun kesusahan dan kesedihan ini akhirnya berakhir dan kehidupannya lebih banyak dilalui dengan kesenangan.

Lebih sabar lagi dari Nabi Ayyub as adalah seorang yang kehidupannya dari kecil sampai tua dipenuhi dengan kesedihan. Ia adalah Zainab Kubra binti Ali bin Abi Thalib as, induk segala musibah.  Di masa kecil ia menyaksikan segala kezaliman yang dilakukan terhadap ayah dan ibunya. Pasca itu ia sebagai perawat kepala ayahnya yang terbela, ia mencuci hati kakaknya Imam Hasan Mujtaba as yang hancur berkeping-keping dengan air mata. Ia menanggung segala musibah berat dalam tragedi yang sangat menyedihkan, yaitu peristiwa Karbala dan pada saat yang sama semua itu baginya tidak lain hanyalah keindahan.

Siapakah Zainab as?
Ia adalah putri Amirul Mukiminin Ali bin Abi Thalib as dan Fathimah az-Zahra as. Ia bernama Zainab dan dikenal dengan sebutan Aqilah Bani Hasyim dan Shiddiqah Shughra. Julukannya adalah Ummu Kultsum Kubra dan Ummu Abdillah. Berdasarkan riwayat masyhur ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 6 Hq. Ia dinamakan Zainab yang berarti perempuan yang cantik atau hiasan ayah.

Kamis, 29 Maret 2012

Kedamaian Sunni Dan Syiah Di Jepara

     Pesantren Syiah, Darut Taqrib, berdiri di tengah lingkungan Nahdlatul Ulama, yang merupakan penganut Sunni di Desa Candi Bangsri, Jepara. Meski beberapa praktek peribadatannya berbeda, warga Syiah dan warga NU hidup damai di wilayah ini. Menurut Miqdad Turkan, murid Abdul Ghadir Bafaqih, pendiri aliran Syiah di Jepara, ada beberapa faktor yang menyebabkan kaum Syiah dan Sunni di Jepara bisa hidup damai.
Ada faktor hubungan kekerabatan dan pertemanan sejak lama. “Banyak tokoh kiai di Jepara dan sekitarnya pernah menjadi murid Ghadir,” kata Miqdad. Karena itu, ketika Abdul Ghadir beralih ke Syiah, muridnya tahu bahwa Abdul Ghadir memang berbeda sejak awal, sehingga tak menimbulkan masalah.
Selain itu, para kiai muda di Jepara juga berteman baik sejak di bangku sekolah. Yang tak kalang penting, kata Miqdad, kaum Syiah di sana tak pernah bertindak ekstrem atau berambisi mengajak orang Sunni masuk ke Syiah. “Orang Syiah berkembang secara alamiah dan orang lain melihat Syiah juga secara alamiah pula,” katanya.
Bagi Miqdad, secara naluriah, orang terus berproses dalam pencarian akibat ketidakpuasan spiritual. “Silakan diskusi. Selanjutnya Anda jadi Syiah atau tidak, itu hak anda. Orang yang bijak adalah yang bisa memahami orang lain tanpa harus mengikuti,” kata Miqdad.
Muhammad Ali, salah satu pengasuh pondok Darut Taqrib, menyatakan menjadi penganut Syiah secara alamiah setelah banyak membaca buku. “Saat umur 16 tahun, saya banyak membaca buku tentang Islam dan masyarakat, serta tentang Islam dan tantangan zaman,” katanya. Setelah itu, dia mondok di Pekalongan.
Sebelumnya, Ali adalah penganut Sunni tulen. Keluarganya pun pengikut setia Sunni. Kini, Ali beralih ke Syiah, sedangkan keluarganya masih ikut Sunni. Keluarga Ali juga tak mempersoalkan pilihan keyakinan anaknya. “Perbedaaan dalam hal kehidupan adalah sesuatu yang biasa, yang penting saling menghargai,” katanya.
Miqdad menambahkan, silakan menjadi pengikut Syiah atau Sunni. “Yang penting jangan berhenti belajar dan selalu membela kaum mustad’afin (kaum lemah),” ujarnya. Miqdad mencontohkan, penganut Syiah dan Sunni di Jepara sering melakukan salat berjamaah. Miqdad mengatakan, dalam salat berjamaah itu, tangan penganut Sunni bersedekap, sedangkan tangan penganut Syiah tidak demikian. “Tidak ada masalah. Itu hanya perbedaan yang tak substansial,” katanya.

Jumat, 09 Maret 2012

Ahlul Bait Dalam Al-Qur’an dan Hadits


Telah banyak ayat dan riwayat yang menyebutkan tentang Ahlulbait, dan di antaranya akan disebutkan di bawah ini.
Diriwayatkan oleh Ummu Salamah, istri Nabi, bahwa Beliau berada di rumah Ummu Salamah, lalu Fatimah datang dengan semangkuk makanan, Rasul bersabda “panggilkan suami dan kedua putramu Al Hasan dan Al Husain.”
Saat itu mereka sedang makan, kemudian turun ayat ini kepada Rasulullah saw, “Sesungguhnya Kami (Allah) berkehendak untuk melenyapkan kekotoran dari kalian wahai Ahlulbait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab : 33)
Kemudian Nabi saw menggenggam jubah dan membentangkannya di atas mereka, lalu mengeluarkan tangannya dan menunjuk ke arah langit dan berdo’a : “Ya Allah, mereka adalah keluarga dan orang-orang khusus bagiku. Hilangkanlah dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.”
Nabi mengatakan hal itu tiga kali, Ummu Salamah berkata “Saat itu aku masukkan kepalaku kedalam kain, seraya aku berkata ‘Ya Rasulullah, adakah aku bersama kalian?” Beliau bersabda dua kali “Engkau ada pada kebaikan.”
Rasulullah melanjutkan penjelasan tentang arti ayat tersebut bagi ummatnya agar mereka bergerak di bawah naungan ayat ini dan dapat mengambil hikmahnya. “Ayat ini turun tentang lima orang : Aku, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.”
Riwayat lain menceritakan bahwa acapkali Rasulullah melewati pintu rumah Fatimah saat hendak melakukan shalat subuh sambil berkata “Mari kita shalat, wahai Ahlulbait! Mari kita shalat! Sesungguhnya Allah telah berkehendak untuk menghilangkan kotoran dari kalian, Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”
Demikian Al-Qur’an berbicara tentang Ahlulbait as bahwa Allah membatasi pribadi-pribadi suci serta jauh dari kotoran, dosa, dan hawa nafsu. Perilaku dan pribadi mereka adalah tauladan. Itulah sebab penekanan Al-Qur’an terhadap posisi dan kedudukan mereka dalam garis syari’at Islam sebagai tempat rujukan saat terjadinya perselisihan dan perpecahan.
Sangat jelas bahwa Al-Qur’an telah menekankan kepemimpinan Ahlulbait as. Sepeninggal Rasul dalam sejumlah besar ayat didalamnya.
Apa kiranya tujuan Rasulullah saw berbulan-bulan melewati rumah Ali dan Fatimah, memanggil mereka di waktu subuh dengan sebutan Ahlulbait kecuali untuk mengenalkan pribadi mereka kepada ummat Islam dan mewajibkan kecintaan dan ketaatan kepada Ahlulbait. 

Pesan-Pesan Penting

Al-Imam Ali ar-ridho as, Tatkala memberikan hadiah "Jubah" beliau kepada Di'bil (pelantun Syair beliau), beliau as berkata Di'bil, maukah kutambah bait-bait lain,.... agar syairmu tentang "derita Keluarga Rasul menjadi Sempurna ?

" Di'bil menjawab Tentu saja, Junjunganku. Semua yang Anda sukai, pasti juga aku sukai.

Syair Beliau as "Menangislah di atas sepetak pusara di Tanah Thus. Musibah yang menimpa akan tetap lestari dalam hati hingga Kiamat Sampai Allah membangkitkan Al Qoim, Yang akan melenyapkan beban duka dari Kami.

Di'bil bertanya ;" Diriku jadi tebusanmu, Junjunganku. PUSARA SIAPAKAH DI THUS ITU ? (Imam as mendekati Di'bil dengan nada yang halus dan pelan) ;

"ITU PUSARAKU". Selanjutnya Imam as beliau berpesan pada

Di'bail ; Segera pergi dari kota (Marw) ini. Tiap kali bertemu dengan para Pecinta Kami sampaikan salam kepada mereka dan ceritakan duka derita Kami.




Abdul Azim Hasani berkata: Dikatakanlah kepada Abu Jafar (Imam Jawad as).”Aku ragu, apakah berziarah ke makam Aba Abdulah Husain atau berziarah ke makam ayahanda di kota Thus.

Pendapat anda bagaimana wahai Abu Jafar? kemudian Imam Jawad berkata : Tetaplah pada pendirianmu.....(kemudian Imam Jawad masuk ke dalam rumahnya dan tiba-tiba keluar sebentar seraya airmata beliau berlinang diantara pipinya dan berkata:
”Sangatlah banyak sekali penziarah Aba Abdulah As dan penziarah Ayah ku (al Imam Ali Ridho as) sangatlah sedikit".