Tampilkan postingan dengan label Imam Ali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Ali. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Fakta yang Tak Pernah diungkap Gereja (bag. 2)


Imam Ali didalam alkitab
Seringkali kata ‘Ali adalah kata depan, baik dengan atau tanpa akhiran kata ganti orang pertama tunggal. Sebuah alternatif lain adalah dengan menerima kata kerja Massoretik tersebut sebagaimana adanya dan mengasumsikan kata ‘Ali bukan sebagai kata depan yang disertai akhiran. Pilhan-pilihannya adalah satu dari bentuk-bentuk kata kerja to rise (meninggi) atau salah satu dari makna kata diri atau benda yang umum. Dengan demikian, pilihan-pilihan yang ada adalah glorify my leaf (terpujilah daunku), glorify my pestle or pistil (terpujilah alu atau putik), atau glorify ‘Ali (terpujilah ‘Ali). Dalam Bilangan 21:17:”Then Israel sang the song, spring up, o well; sing ye unto it.” [“Pada waktu itu orang Israel menyanyikan nyanyian ini “Berbual-buallah, hai sumur! Mari kita bernyanyi-nyanyi berbalasan-balasan karena sumur yang digali oleh raja.”]
Terdapat sebuah komposisi yang sepenuhnya alamiah dan dapat dipahami dalam bahasa Ibrani, yang dalam kaitan ini ‘Ali adalah subyek sementara sumur adalah predikat: ‘Ali adalah sebuah sumur (sumber air). Namun demikian, ini belumlah jelas karena kepada siapakah nama diri (‘Ali) harus merujuk?

Pesan-Pesan Penting

Al-Imam Ali ar-ridho as, Tatkala memberikan hadiah "Jubah" beliau kepada Di'bil (pelantun Syair beliau), beliau as berkata Di'bil, maukah kutambah bait-bait lain,.... agar syairmu tentang "derita Keluarga Rasul menjadi Sempurna ?

" Di'bil menjawab Tentu saja, Junjunganku. Semua yang Anda sukai, pasti juga aku sukai.

Syair Beliau as "Menangislah di atas sepetak pusara di Tanah Thus. Musibah yang menimpa akan tetap lestari dalam hati hingga Kiamat Sampai Allah membangkitkan Al Qoim, Yang akan melenyapkan beban duka dari Kami.

Di'bil bertanya ;" Diriku jadi tebusanmu, Junjunganku. PUSARA SIAPAKAH DI THUS ITU ? (Imam as mendekati Di'bil dengan nada yang halus dan pelan) ;

"ITU PUSARAKU". Selanjutnya Imam as beliau berpesan pada

Di'bail ; Segera pergi dari kota (Marw) ini. Tiap kali bertemu dengan para Pecinta Kami sampaikan salam kepada mereka dan ceritakan duka derita Kami.




Abdul Azim Hasani berkata: Dikatakanlah kepada Abu Jafar (Imam Jawad as).”Aku ragu, apakah berziarah ke makam Aba Abdulah Husain atau berziarah ke makam ayahanda di kota Thus.

Pendapat anda bagaimana wahai Abu Jafar? kemudian Imam Jawad berkata : Tetaplah pada pendirianmu.....(kemudian Imam Jawad masuk ke dalam rumahnya dan tiba-tiba keluar sebentar seraya airmata beliau berlinang diantara pipinya dan berkata:
”Sangatlah banyak sekali penziarah Aba Abdulah As dan penziarah Ayah ku (al Imam Ali Ridho as) sangatlah sedikit".