Imam Husain as dan Tragedi Karbala
didalam alkitab
Kata Husain
(dalam Ibrani: ChSN), penggunaan kata tesebut merujuk kepada suatu simbol seorang
Imam yang menanggung nama–nama umat di hadapan Tuhan. Dalam Yeremia 46:6,10
kurang diperhatikan yang isinya seolah-olah
mensyaratkan aplikasinya kepada Imam Husain as.
“Let not the
swift flee away, nor the mighty man escape; they shall stumble, and fall toward
the north by the river Euphrates…For this is the dag of the LORD GOD of hosts,
a day of vengeance, that he may avenge him of his adverseries: and the sword
shall devour, and shall be satiate and made drunk with their blood: for the
LORD GOD of hosts hath a sacrifice in the north country by the river
Euphrates.”
[“Orang yang
tangkas tidak dapat melarikan diri, pahlawan tidak dapat melupakan diri; di
utara, di tepi sungai Efratlah mereka tersandung dan rebah…Hari itu ialah hari
Tuhan ALLAH semesta alam, hari pembalasan untuk melakukan pembalasan kepada
para lawan-Nya. Pedang akan makan sampai kenyang, dan akan puas minum darah
mereka. Sebab Tuhan ALLAH semesta alam mengadakan korban penyembelihan di tanah
utara, dekat sungai Efrat.”]
Implikasinya
adalah sebuah janji bahwa Tuhan akan membalas serangan atas kekasih-Nya Husain
as dan para sahabatnya di Karbala, di sungai Eufrat.
Peristiwa Ghadir Khum didalam alkitab
Al-Ghadir
adalah sebuah peristiwa dalam sejarah Islam, terjadi pada tanggal 18
dzulhijjah, ketika Nabi Muhammad saw menyampaikan khutbah
terakhirnya. Dalam sebuah riwayat yang mutawatir, diantara bagian
terpenting dari khutbah itu adalah: “Wahai manusia! Allah adalah
Maulaku dan adalah Maula orang yang beriman dan Aku memilki hak yang
lebih atas hidup mereka. Dan inilah Ali Maula bagi yang menjadikanku
Maula. Ya Allah! Cintailah orang yang mencintainya dan bencilah orang
yang membencinya.”
Kata
Ghadir (dalam bahasa Ibrani: GDUr) didalam alkitab muncul sebagai
kata Ibrani yang bermakna ‘wall’
(dinding) atau ‘fence’
(pagar). Kemunculan kata tersebut terdapat pada Yesaya 58:12 yang
berbicara tentang puasa. Ungkapan relevan yang terdapat didalamnya
ialah ‘the
fencing up of the breach’
(pemagaran tembok yang tembus). Kata tersebut merujuk seorang figur
manusia. Didalam ayat 5, kata-kata sang Nabi menunjukkan kepada kaum
yang gagal melaksanakan perintah Tuhan secara benar. Kegagalan itu
tampak dari perilaku mereka yang tetap zalim meskipun mereka kerap
melaksanakan berbagai bentuk (ibadah) puasa. Kata ganti ye
(kalian) berubah menjadi bentuk tunggal thou
(kamu) didalam ayat 7, dan berawal pada ayat inilah seorang figur
manusia dari ghadir tersebut dijelaskan. Kata-kata yang ada sejak
ayat ke 7 tersebut, secara khusus, sangat bermakna apabila diterapkan
kepada Imam Ali as yang diangkat Nabi saw di Al-Ghadir.
Imam Ali didalam alkitab
Seringkali kata ‘Ali adalah kata depan, baik dengan atau
tanpa akhiran kata ganti orang pertama tunggal. Sebuah alternatif lain adalah
dengan menerima kata kerja Massoretik tersebut sebagaimana adanya dan
mengasumsikan kata ‘Ali bukan sebagai kata depan yang disertai akhiran.
Pilhan-pilihannya adalah satu dari bentuk-bentuk kata kerja to rise (meninggi)
atau salah satu dari makna kata diri atau benda yang umum. Dengan demikian,
pilihan-pilihan yang ada adalah glorify my leaf (terpujilah daunku), glorify my
pestle or pistil (terpujilah alu atau putik), atau glorify ‘Ali (terpujilah
‘Ali). Dalam Bilangan 21:17:”Then Israel sang the song, spring up, o
well; sing ye unto it.” [“Pada waktu itu orang Israel menyanyikan nyanyian ini
“Berbual-buallah, hai sumur! Mari kita bernyanyi-nyanyi
berbalasan-balasan karena sumur yang digali oleh raja.”]
Terdapat sebuah komposisi yang sepenuhnya alamiah dan dapat
dipahami dalam bahasa Ibrani, yang dalam kaitan ini ‘Ali adalah subyek
sementara sumur adalah predikat: ‘Ali adalah sebuah sumur (sumber air). Namun
demikian, ini belumlah jelas karena kepada siapakah nama diri (‘Ali) harus
merujuk?
Nabi Muhammad & Imam Mahdi as didalam alkitab
Kata Nabi Muhammad didalam alkitab dengan menggunakan nama khusus, dan menemukan faktor-faktor yang mengarah kepada Nabi Muhammad saw dan Imam Mahdi as. Padanan kata bahasa ibrani dari akar kata yang darinya nama Nabi Muhammad berasal ialah hamda, yang berarti 'to desire' menginginkan atau 'pamper' memanjakan. Konotasinya dalam bahasa arab yakni 'to praise' memuji.
Pesan-Pesan Penting
Al-Imam Ali ar-ridho as, Tatkala memberikan hadiah "Jubah" beliau kepada Di'bil (pelantun Syair beliau), beliau as berkata Di'bil, maukah kutambah bait-bait lain,.... agar syairmu tentang "derita Keluarga Rasul menjadi Sempurna ?
" Di'bil menjawab Tentu saja, Junjunganku. Semua yang Anda sukai, pasti juga aku sukai.
Syair Beliau as "Menangislah di atas sepetak pusara di Tanah Thus. Musibah yang menimpa akan tetap lestari dalam hati hingga Kiamat Sampai Allah membangkitkan Al Qoim, Yang akan melenyapkan beban duka dari Kami.
Di'bil bertanya ;" Diriku jadi tebusanmu, Junjunganku. PUSARA SIAPAKAH DI THUS ITU ? (Imam as mendekati Di'bil dengan nada yang halus dan pelan) ;
"ITU PUSARAKU". Selanjutnya Imam as beliau berpesan pada
Di'bail ; Segera pergi dari kota (Marw) ini. Tiap kali bertemu dengan para Pecinta Kami sampaikan salam kepada mereka dan ceritakan duka derita Kami.
Abdul Azim Hasani berkata: Dikatakanlah kepada Abu Jafar (Imam Jawad as).”Aku ragu, apakah berziarah ke makam Aba Abdulah Husain atau berziarah ke makam ayahanda di kota Thus.
Pendapat anda bagaimana wahai Abu Jafar? kemudian Imam Jawad berkata : Tetaplah pada pendirianmu.....(kemudian Imam Jawad masuk ke dalam rumahnya dan tiba-tiba keluar sebentar seraya airmata beliau berlinang diantara pipinya dan berkata:
”Sangatlah banyak sekali penziarah Aba Abdulah As dan penziarah Ayah ku (al Imam Ali Ridho as) sangatlah sedikit".