Imam Husain as dan Tragedi Karbala
didalam alkitab
Kata Husain
(dalam Ibrani: ChSN), penggunaan kata tesebut merujuk kepada suatu simbol seorang
Imam yang menanggung nama–nama umat di hadapan Tuhan. Dalam Yeremia 46:6,10
kurang diperhatikan yang isinya seolah-olah
mensyaratkan aplikasinya kepada Imam Husain as.
“Let not the
swift flee away, nor the mighty man escape; they shall stumble, and fall toward
the north by the river Euphrates…For this is the dag of the LORD GOD of hosts,
a day of vengeance, that he may avenge him of his adverseries: and the sword
shall devour, and shall be satiate and made drunk with their blood: for the
LORD GOD of hosts hath a sacrifice in the north country by the river
Euphrates.”
[“Orang yang
tangkas tidak dapat melarikan diri, pahlawan tidak dapat melupakan diri; di
utara, di tepi sungai Efratlah mereka tersandung dan rebah…Hari itu ialah hari
Tuhan ALLAH semesta alam, hari pembalasan untuk melakukan pembalasan kepada
para lawan-Nya. Pedang akan makan sampai kenyang, dan akan puas minum darah
mereka. Sebab Tuhan ALLAH semesta alam mengadakan korban penyembelihan di tanah
utara, dekat sungai Efrat.”]
Implikasinya
adalah sebuah janji bahwa Tuhan akan membalas serangan atas kekasih-Nya Husain
as dan para sahabatnya di Karbala, di sungai Eufrat.
Tujuan
kajian ini adalah untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan adanya bukti yang
lebih obyektif yaitu dengan meneliti rangkaian-rangkaian dua belas yang
terdapat didalam alkitab untuk membuktikan karakteristik-karakteristik setiap
dua belas periode dalam rangkaian-rangkaian tersebut. Di antaranya adalah
pasal-pasal yang berisikan dua belas ayat dan pasal-pasal yang berisikan dua
belas rujukan kepada sebuah kata tertentu. Terdapat sejumlah pasal seperti itu
di dalam Mazmur, termasuk beberapa Mazmur yang tiap-tiapnya terdiri dari dua
belas ayat, dan yang paling khusus adalah rangkaian dua belas Mazmur berjudul
Mazmur Asaf. Apabila di perbandingkan secara teliti dengan nama-nama kedua
belas putra Ismail as, maka kedua belas Mazmur Asaf itu yang memberikan
petunjuk tentang karakteristik setiap periode dua belas, merefleksikan
karakteristik setiap dua belas Imam.
Secara
khusus, kita memusarkan perhatian kepada Mazmur 74 yang atas dasar skema
tersebut, merupakan nubuat tentang kesyahidan Imam Husain as. Mazmur 74 adalah
Mazmur ketiga dari Mazmur Asaf.
1 “<<
Maschil of Asaph>> O God, why hast thou cast us off for ever? Why doth
thine anger smoke against the sheep of thy pasture?”
[1 “Nyanyian
pengajaran Asaf. Mengapa, ya Allah, Kau buang kami untuk seterusnya? Mengapa
menyala murka-Mu terhadap kambing gembalakan-Mu?”]
Pada
hakikatnya, permohonan seperti itu merupakan ekspresi kesedihan sang penyampai
Mazmur (kidung) ketika merenungkan peristiwa masa depan yang sedang
diajarkannya. Seperti halnya Nabi saw merenungkan tragedi Karbala, maka sang
penyampai Mazmur pun menyerukan kata-kata tersebut dalam ekspresi kesedihan.
Sangat mungkin bahwa Nabi Daud-lah yang menulis Mazmur ini. Terlepas dari benar
atau tidaknya bahwa Nabi Daud as memandang Imam Husain as sebagai keturunannya.
2 “Remember
thy congregation, which thou hast pusehased of old; the rod of thine
inheritance, which thou hast redeemed; this mount zion, wherein thou hast
dwelt.”
[2 “Ingatlah
akan umat-Mu yang telah Kau peroleh pada zaman purbakala, yang Kau tebus
menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunng Sion yang Engkau diami.”]
Rujukan
kepada gunung Zion atau Sion mungkin adalah hal yang khusus walaupun kata itu
sendiri bias merujuk kepada tempat-tempat manapun. Bagaimanapun, disini adalah
lebih mungkin jika kita melihat suatu ide bahwa lokasi kesyahidan Imam Husain
as, karena peristiwa itu, juga memperoleh posisi kesucian yang sama, setidaknya
dalam dalam beberapa pemahaman-sebagai rumah Tuhan, yang pada masa Nabi Daud
adalah Quds atau Yerussalem.
3 “Lift up
thy feet unto the perpetual desolation; even all that the enemy halth done
wickedly in the sanctuary.”
[“3
Ringankanlah langkah-Mu yang rusak terus-menerus; segala-galanya telah di
musnahkan musuh di tempat Kudus.”]
Ungkapan
ringankanlah langkahMu merupakan suatu permohonan bagi keselamatan. Namun,
sebagai Mazmur adukatif, maka makna terpenting dari ungkapan itu ialah
penggambaran situasi yang menyedihkan akibat seolah-olah tidak adanya
pertolongan Tuhan. Ungkapan ‘perpetual desulations’ (yang rusak terus-menerus)
sangat cocok menggambarkan tragedi Karbala.
4 “Thine
enemis roar in the midst of thy congregations; they set up their ensigns for
signs.”
[“4
Lawan-lawanMu mengaum di tempat pertempuranMu dan telah mendirikan panji-panji mereka
sebagai tanda.”]
Ayat 4
merujuk kepada kegemparan besar dari para musuh yang dilakukan terhadap
pengikut Imam Husain as. Ayat ini menyebutkan bendera-bendera dan panji-panji
yang musuh-musuh angkat untuk melawan Imam Husain.
5 “A man was
famous according as he had lifted up axes upon the thick trees.”
[“5
Kelihatannya seperti orang yang mengayunkan tinggi-tinggi sebuah kapak kepada
kayu-kayuan yang lebat.”]
6 “But now
they break down the carved work there of at once with axes and hammers.”
[“6 Dan sekarang
ukir-ukirannya seluruhnya di palu mereka dengan kapak dan beliung-beliung.”]
Ayat 5 dan 6
jelas merujuk kepada pembantain tubuh-tubuh yang terjadi di Karbala. Gaya
bahasa yang membandingkan manusia dengan pohon sudah lama dikenal.
7 “They have
cast fire into thy sanctuary, they have defiled by casting down the dwelling
place of thy name to the ground.”
[“7 Mereka
menyulut tempat kudusMu dengan api, mereka menajiskan tempat kedamaian namaMua
sampai pada tanah.”]
Ayat 7
merupakan sebuah gambaran jelas tentang perusakan tenda Imam Husain as.
8 “They said
in their hearts, let us destroy them together: they have burned up all the
synagogves of God in the land.”
[“8 Mereka
berkata dalam hatinya: ‘Baiklah kita menindas menindas mereka semuanya’! mereka
membakar segala tempat pertemuan Allah di negeri.”]
Ayat 8
adalah sebuah nubuat mengenai suatu fakta bahwa musuh-musuh Imam Husain as
telah bertekad untuk menghancurkannya dan seluruh sahabatnya. Nubuat tersebut
berlanjut dengan mengatakan bahwa, dengan melakukan hal itu, maka musuh-musuh
beranggapan bahwa mereka telah menghancurkan seluruh tempat ibadah di muka
bumi.
9 “We see
not our signs: there is no more any prophet: neither is there among us any that
knoweth how long.”
[“9
Tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada lagi Nabi, dan tidak ada di antara
kami yang mengetahui berapa lama lagi.”]
Ayat diatas
menunjukkan ratapan yang merujuk kepada tiga aspek tragedi Karbala. Pertama,
panji-panji Imam Husain as tidak lagi terlihat berkibar. Kedua, tidak ada seorang
Nabi. Ketiga, tak ada seorangpun diantara umat manusia “yang mengetahui berapa
lama lagi”. Maksudnya adalah bahwa seorang manusia berilmu, sang Imam, telah
syahid. Ayat ini dimulai dengan fakta bahwa bendera-bendera sudah tidak lagi
berkibar dan seraya meratap berlanjut dengan mengungkapakan fakta bahwa Nabi
saw (saat tragedi itu) telah tiada. Lebih daripada itu, satu-satunya penghuni
rumah suci yang pernah Nabi saw kumpulkan di bawah jubahnya telah wafat.
10 “O God,
how long shall the adversary reproach? Shall the enemy blaspheme thy name for
ever.”
[“10 Berapa
lama lagi, ya Allah, lawan itu mencela, dan musuh menista namaMu
terus-menerus?”]
Ayat 10 dan
11 merujuk kepada kondisi ketika musuh begitu mendominasi Imamah. Dominasi itu,
pada hakikatnya, bermula dengan kesyahidan Imam Husain as dan akan berakhir
pada saat kembalinya Imam Mahdi as. Kondisi tersebut salah satunya adalah
penistaan. Penguasa perampas adalah seorang penista.
11 “Why
withdrawest thou thy hand, even thy right hand? Pluck it out of thy bosom.”
[“11 Mengapa
engkau menarik kembali tanganMu, menaruh tangan kananMu di dada?”]
Dalam ayat
11 terdapat dua kemungkinan implikasi dalam konteks ini. Menaruh tangan kananMu
di dada bermakna penebusan atas apa yang terjadi di Karbala. Hal ini merujuk
hanya kepada kemunculan Imam Mahdi as. Di sisi lain, hal tersebut juga dapat
merujuk kepada kebangkitan dan kemunculan kembali Imam Husain as.


0 komentar:
Posting Komentar