Kamis, 01 Maret 2012

Fakta yang Tak Pernah diungkap Gereja (bag. 4)

          Imam Husain as dan Tragedi Karbala didalam alkitab
 Kata Husain (dalam Ibrani: ChSN), penggunaan kata tesebut merujuk kepada suatu simbol seorang Imam yang menanggung nama–nama umat di hadapan Tuhan. Dalam Yeremia 46:6,10 kurang diperhatikan  yang isinya seolah-olah mensyaratkan aplikasinya kepada Imam Husain as.
“Let not the swift flee away, nor the mighty man escape; they shall stumble, and fall toward the north by the river Euphrates…For this is the dag of the LORD GOD of hosts, a day of vengeance, that he may avenge him of his adverseries: and the sword shall devour, and shall be satiate and made drunk with their blood: for the LORD GOD of hosts hath a sacrifice in the north country by the river Euphrates.”
[“Orang yang tangkas tidak dapat melarikan diri, pahlawan tidak dapat melupakan diri; di utara, di tepi sungai Efratlah mereka tersandung dan rebah…Hari itu ialah hari Tuhan ALLAH semesta alam, hari pembalasan untuk melakukan pembalasan kepada para lawan-Nya. Pedang akan makan sampai kenyang, dan akan puas minum darah mereka. Sebab Tuhan ALLAH semesta alam mengadakan korban penyembelihan di tanah utara, dekat sungai Efrat.”]
Implikasinya adalah sebuah janji bahwa Tuhan akan membalas serangan atas kekasih-Nya Husain as dan para sahabatnya di Karbala, di sungai Eufrat.


Tujuan kajian ini adalah untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan adanya bukti yang lebih obyektif yaitu dengan meneliti rangkaian-rangkaian dua belas yang terdapat didalam alkitab untuk membuktikan karakteristik-karakteristik setiap dua belas periode dalam rangkaian-rangkaian tersebut. Di antaranya adalah pasal-pasal yang berisikan dua belas ayat dan pasal-pasal yang berisikan dua belas rujukan kepada sebuah kata tertentu. Terdapat sejumlah pasal seperti itu di dalam Mazmur, termasuk beberapa Mazmur yang tiap-tiapnya terdiri dari dua belas ayat, dan yang paling khusus adalah rangkaian dua belas Mazmur berjudul Mazmur Asaf. Apabila di perbandingkan secara teliti dengan nama-nama kedua belas putra Ismail as, maka kedua belas Mazmur Asaf itu yang memberikan petunjuk tentang karakteristik setiap periode dua belas, merefleksikan karakteristik setiap dua belas Imam.
Secara khusus, kita memusarkan perhatian kepada Mazmur 74 yang atas dasar skema tersebut, merupakan nubuat tentang kesyahidan Imam Husain as. Mazmur 74 adalah Mazmur ketiga dari Mazmur Asaf.
1 “<< Maschil of Asaph>> O God, why hast thou cast us off for ever? Why doth thine anger smoke against the sheep of thy pasture?”
[1 “Nyanyian pengajaran Asaf. Mengapa, ya Allah, Kau buang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing gembalakan-Mu?”]
Pada hakikatnya, permohonan seperti itu merupakan ekspresi kesedihan sang penyampai Mazmur (kidung) ketika merenungkan peristiwa masa depan yang sedang diajarkannya. Seperti halnya Nabi saw merenungkan tragedi Karbala, maka sang penyampai Mazmur pun menyerukan kata-kata tersebut dalam ekspresi kesedihan. Sangat mungkin bahwa Nabi Daud-lah yang menulis Mazmur ini. Terlepas dari benar atau tidaknya bahwa Nabi Daud as memandang Imam Husain as sebagai keturunannya.
2 “Remember thy congregation, which thou hast pusehased of old; the rod of thine inheritance, which thou hast redeemed; this mount zion, wherein thou hast dwelt.”
[2 “Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kau peroleh pada zaman purbakala, yang Kau tebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunng Sion yang Engkau diami.”]
Rujukan kepada gunung Zion atau Sion mungkin adalah hal yang khusus walaupun kata itu sendiri bias merujuk kepada tempat-tempat manapun. Bagaimanapun, disini adalah lebih mungkin jika kita melihat suatu ide bahwa lokasi kesyahidan Imam Husain as, karena peristiwa itu, juga memperoleh posisi kesucian yang sama, setidaknya dalam dalam beberapa pemahaman-sebagai rumah Tuhan, yang pada masa Nabi Daud adalah Quds atau Yerussalem.
3 “Lift up thy feet unto the perpetual desolation; even all that the enemy halth done wickedly in the sanctuary.”
[“3 Ringankanlah langkah-Mu yang rusak terus-menerus; segala-galanya telah di musnahkan musuh di tempat Kudus.”]
Ungkapan ringankanlah langkahMu merupakan suatu permohonan bagi keselamatan. Namun, sebagai Mazmur adukatif, maka makna terpenting dari ungkapan itu ialah penggambaran situasi yang menyedihkan akibat seolah-olah tidak adanya pertolongan Tuhan. Ungkapan ‘perpetual desulations’ (yang rusak terus-menerus) sangat cocok menggambarkan tragedi Karbala.
4 “Thine enemis roar in the midst of thy congregations; they set up their ensigns for signs.”
[“4 Lawan-lawanMu mengaum di tempat pertempuranMu dan telah mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda.”]
Ayat 4 merujuk kepada kegemparan besar dari para musuh yang dilakukan terhadap pengikut Imam Husain as. Ayat ini menyebutkan bendera-bendera dan panji-panji yang musuh-musuh angkat untuk melawan Imam Husain.
5 “A man was famous according as he had lifted up axes upon the thick trees.”
[“5 Kelihatannya seperti orang yang mengayunkan tinggi-tinggi sebuah kapak kepada kayu-kayuan yang lebat.”]
6 “But now they break down the carved work there of at once with axes and hammers.”
[“6 Dan sekarang ukir-ukirannya seluruhnya di palu mereka dengan kapak dan beliung-beliung.”]
Ayat 5 dan 6 jelas merujuk kepada pembantain tubuh-tubuh yang terjadi di Karbala. Gaya bahasa yang membandingkan manusia dengan pohon sudah lama dikenal.
7 “They have cast fire into thy sanctuary, they have defiled by casting down the dwelling place of thy name to the ground.”
[“7 Mereka menyulut tempat kudusMu dengan api, mereka menajiskan tempat kedamaian namaMua sampai pada tanah.”]
Ayat 7 merupakan sebuah gambaran jelas tentang perusakan tenda Imam Husain as.
8 “They said in their hearts, let us destroy them together: they have burned up all the synagogves of God in the land.”
[“8 Mereka berkata dalam hatinya: ‘Baiklah kita menindas menindas mereka semuanya’! mereka membakar segala tempat pertemuan Allah di negeri.”]
Ayat 8 adalah sebuah nubuat mengenai suatu fakta bahwa musuh-musuh Imam Husain as telah bertekad untuk menghancurkannya dan seluruh sahabatnya. Nubuat tersebut berlanjut dengan mengatakan bahwa, dengan melakukan hal itu, maka musuh-musuh beranggapan bahwa mereka telah menghancurkan seluruh tempat ibadah di muka bumi.
9 “We see not our signs: there is no more any prophet: neither is there among us any that knoweth how long.”
[“9 Tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada lagi Nabi, dan tidak ada di antara kami yang mengetahui berapa lama lagi.”]
Ayat diatas menunjukkan ratapan yang merujuk kepada tiga aspek tragedi Karbala. Pertama, panji-panji Imam Husain as tidak lagi terlihat berkibar. Kedua, tidak ada seorang Nabi. Ketiga, tak ada seorangpun diantara umat manusia “yang mengetahui berapa lama lagi”. Maksudnya adalah bahwa seorang manusia berilmu, sang Imam, telah syahid. Ayat ini dimulai dengan fakta bahwa bendera-bendera sudah tidak lagi berkibar dan seraya meratap berlanjut dengan mengungkapakan fakta bahwa Nabi saw (saat tragedi itu) telah tiada. Lebih daripada itu, satu-satunya penghuni rumah suci yang pernah Nabi saw kumpulkan di bawah jubahnya telah wafat.
10 “O God, how long shall the adversary reproach? Shall the enemy blaspheme thy name for ever.”
[“10 Berapa lama lagi, ya Allah, lawan itu mencela, dan musuh menista namaMu terus-menerus?”]
Ayat 10 dan 11 merujuk kepada kondisi ketika musuh begitu mendominasi Imamah. Dominasi itu, pada hakikatnya, bermula dengan kesyahidan Imam Husain as dan akan berakhir pada saat kembalinya Imam Mahdi as. Kondisi tersebut salah satunya adalah penistaan. Penguasa perampas adalah seorang penista.
11 “Why withdrawest thou thy hand, even thy right hand? Pluck it out of thy bosom.”
[“11 Mengapa engkau menarik kembali tanganMu, menaruh tangan kananMu di dada?”]
Dalam ayat 11 terdapat dua kemungkinan implikasi dalam konteks ini. Menaruh tangan kananMu di dada bermakna penebusan atas apa yang terjadi di Karbala. Hal ini merujuk hanya kepada kemunculan Imam Mahdi as. Di sisi lain, hal tersebut juga dapat merujuk kepada kebangkitan dan kemunculan kembali Imam Husain as.


0 komentar:

Posting Komentar

Pesan-Pesan Penting

Al-Imam Ali ar-ridho as, Tatkala memberikan hadiah "Jubah" beliau kepada Di'bil (pelantun Syair beliau), beliau as berkata Di'bil, maukah kutambah bait-bait lain,.... agar syairmu tentang "derita Keluarga Rasul menjadi Sempurna ?

" Di'bil menjawab Tentu saja, Junjunganku. Semua yang Anda sukai, pasti juga aku sukai.

Syair Beliau as "Menangislah di atas sepetak pusara di Tanah Thus. Musibah yang menimpa akan tetap lestari dalam hati hingga Kiamat Sampai Allah membangkitkan Al Qoim, Yang akan melenyapkan beban duka dari Kami.

Di'bil bertanya ;" Diriku jadi tebusanmu, Junjunganku. PUSARA SIAPAKAH DI THUS ITU ? (Imam as mendekati Di'bil dengan nada yang halus dan pelan) ;

"ITU PUSARAKU". Selanjutnya Imam as beliau berpesan pada

Di'bail ; Segera pergi dari kota (Marw) ini. Tiap kali bertemu dengan para Pecinta Kami sampaikan salam kepada mereka dan ceritakan duka derita Kami.




Abdul Azim Hasani berkata: Dikatakanlah kepada Abu Jafar (Imam Jawad as).”Aku ragu, apakah berziarah ke makam Aba Abdulah Husain atau berziarah ke makam ayahanda di kota Thus.

Pendapat anda bagaimana wahai Abu Jafar? kemudian Imam Jawad berkata : Tetaplah pada pendirianmu.....(kemudian Imam Jawad masuk ke dalam rumahnya dan tiba-tiba keluar sebentar seraya airmata beliau berlinang diantara pipinya dan berkata:
”Sangatlah banyak sekali penziarah Aba Abdulah As dan penziarah Ayah ku (al Imam Ali Ridho as) sangatlah sedikit".